Tujuh Tokoh Lintas Generasi Pimpin KAHMI Kaltim Periode 2026-2031
Kalimantan Timur - Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Forhati Kalimantan Timur (Kaltim) menetapkan tujuh tokoh sebagai formatur presidium terpilih periode 2026-2031.
Penetapan tersebut berlangsung secara mufakat dalam forum musyawarah yang berjalan dinamis. Komposisi presidium baru mencerminkan perpaduan tokoh dari berbagai generasi, latar belakang profesi, serta pengalaman di pemerintahan, politik, legislatif, dan organisasi.
Tujuh tokoh yang ditetapkan sebagai presidium terpilih yakni Prof Aswin, Mohammad Djailani, Mudyat Noor yang merupakan Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Marwan, Arbianto Amin, Murjani, serta Sigit Wibowo yang merupakan anggota DPRD Kaltim.
Komposisi tersebut diharapkan mampu memperkuat pola kepemimpinan kolektif kolegial KAHMI Kaltim sekaligus menjawab kebutuhan organisasi dalam menghadapi perubahan dan dinamika pembangunan daerah.
Tujuh Tokoh Lintas Generasi di KAHMI Kaltim
Salah satu nama yang mendapat perhatian dalam Muswil VII adalah Mohammad Djailani. Birokrat senior tersebut kembali ke panggung organisasi setelah puluhan tahun menjalani pengabdian di pemerintahan daerah maupun pusat.
Djailani sebelumnya pernah memimpin HMI Cabang Samarinda sekitar 45 tahun lalu. Dalam perjalanan kariernya di pemerintahan, ia pernah dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, antara lain Kepala Biro Humas Setprov Kaltim, Kepala Dinas Perindagkop Kaltim, serta Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kaltim.
Ia juga pernah mengemban posisi sebagai Asisten Deputi Menko EKUIN/Bappenas sebelum menyelesaikan masa pengabdiannya di pemerintahan.
Dalam forum Muswil, Djailani menyatakan kesiapannya untuk kembali berkontribusi melalui KAHMI Kaltim.
“Saya menyatakan siap mewakafkan diri untuk mengabdi bersama KAHMI Kaltim,” ujar Djailani di hadapan pimpinan sidang pleno, Rudiansyah, sebelum penetapan formatur.
Menurut Djailani, keputusan untuk kembali aktif dalam organisasi alumni HMI tidak terlepas dari keinginannya membangun kembali hubungan dengan kader-kader muda HMI.
“Motivasi saya kembali ke panggung ini adalah merajut kembali kerinduan dengan para kader muda HMI,” tuturnya.
Ia menilai keberadaan alumni senior memiliki peran penting untuk menjadi jembatan antara pengalaman generasi terdahulu dengan energi dan gagasan generasi muda.
Djailani juga menyoroti perubahan posisi strategis Kalimantan Timur seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurut dia, perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok profesi dan generasi untuk mengawal perkembangan daerah.
“Kaltim bukan lagi sekadar provinsi penyangga, melainkan pusat peradaban IKN. Di sini berkumpul komitmen investasi bernilai triliunan rupiah dari Sovereign Wealth Fund yang harus terus kita kawal realisasinya di lapangan,” katanya.
Ia mengusulkan adanya sinergi tiga kelompok generasi dalam tubuh KAHMI Kaltim. Generasi senior berusia 60 tahun ke atas dinilai dapat berperan sebagai penjaga nilai dan etika organisasi.
Sementara itu, kelompok usia 45 hingga 59 tahun diharapkan menjadi generasi penghubung dengan pengalaman, jejaring, serta akses terhadap kebijakan. Adapun generasi muda berusia 30 hingga 44 tahun diposisikan sebagai motor operasional organisasi.
“KAHMI tidak bisa bergerak efektif jika hanya dijawab oleh satu kelompok generasi dan satu bidang profesi saja,” ujar Djailani.
Selain komposisi kepemimpinan, ia menekankan pentingnya pola kerja presidium yang mampu menjaga prinsip keterwakilan sekaligus bergerak cepat dalam menjalankan program organisasi.
Menurutnya, sistem kolektif kolegial tetap diperlukan untuk memastikan setiap unsur memiliki ruang dalam pengambilan keputusan. Namun, mekanisme kerja harus dibuat lebih efektif dan memiliki koordinasi yang jelas.
“Kita tetap menjalankan sistem presidium kolektif kolegial agar semua kelompok terwakili. Tetapi cara kerjanya harus berjiwa kepemimpinan kuat, satu komando, cepat, dan memiliki pertanggungjawaban terpadu,” bebernya.
Dengan ditetapkannya tujuh presidium terpilih, kepengurusan KAHMI Kaltim periode 2026-2031 diharapkan dapat menjadi wadah konsolidasi alumni sekaligus memperkuat kontribusi organisasi terhadap pembangunan daerah.
Kehadiran tokoh dari beragam generasi dan latar belakang profesi juga menjadi modal organisasi untuk membangun komunikasi lintas sektor, terutama dalam merespons perubahan strategis Kaltim sebagai wilayah yang menjadi pusat pembangunan IKN.
KAHMI Kaltim ke depan tidak hanya diharapkan mampu mempererat hubungan antaralumni, tetapi juga menghadirkan gagasan dan kontribusi nyata dalam berbagai persoalan pembangunan, sosial, ekonomi, serta pengembangan sumber daya manusia di Benua Etam.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles